Teknologi zaman sekarang memang canggih banget, sampai-sampai hidup kita rasanya tidak bisa jauh dari layar. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, semuanya pasti diawali dan ditutup dengan HP. Kadang bukan karena penting, tapi sekadar takut ketinggalan sesuatu—padahal biasanya yang ketinggalan itu cuma update teman yang upload foto kopi. Tapi, ya begitulah. Gadget sekarang itu seperti pasangan posesif: selalu minta perhatian.
Masalahnya, kebiasaan ini bikin kita jadi terlalu bergantung. Tidak bawa HP 5 menit saja sudah berasa seperti tersesat di hutan tanpa kompas. Bahkan kita sering pura-pura sibuk di HP biar tidak canggung saat bertemu orang. Akhirnya teknologi yang seharusnya membantu malah bikin kita lupa cara bersosialisasi langsung. Teman nongkrong banyak, tapi semuanya sibuk main HP masing-masing. Interaksi tatap muka? Hilang seperti sinyal di pelosok.
Belum lagi efeknya ke kesehatan. Duduk lama scrolling media sosial bisa bikin badan kaku seperti manekin. Leher rasa-rasanya sudah membentuk sudut 90 derajat saking sering menunduk. Mata pun sering perih, bukan karena habis menangis ditinggal seseorang, tapi karena kebanyakan lihat layar sampai lupa kedip. Tidur juga kacau—niatnya mau rebahan sebentar, eh malah ketiduran sambil nonton video random.
Media sosial juga punya efek samping yang cukup berbahaya: membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain yang sebetulnya penuh filter. Orang lain posting liburan mewah, kita posting makan mie instan. Jadinya insecure padahal realitan
ya semua orang juga punya masalah, hanya saja tidak di-upload. Teknologi membuat hidup orang lain terlihat sempurna, dan hidup sendiri terlihat biasa saja—padahal yang beda cuma angle kamera.
Selain itu, teknologi juga membawa masalah baru seperti kebocoran data. Kita gampang banget klik “Setuju” tanpa membaca apa pun—yang penting bisa lanjut. Tidak sadar bahwa kita mungkin saja sudah menyumbangkan data pribadi ke segala penjuru internet. Kalau tiba-tiba ada yang telepon menawarkan pinjaman, jangan kaget, mungkin itu “buah cinta” dari tombol setuju tadi.
Dan yang paling fenomenal tentu saja hoaks. Berita aneh sedikit langsung disebarkan tanpa dicek dulu. Kadang kita ikut percaya informasi yang bahkan lebih tidak masuk akal dari plot sinetron. Makanya teknologi memang membantu, tapi juga bisa jadi sumber kebingungan nasional kalau dipakai sembarangan.
Pada akhirnya, teknologi itu baik-baik saja. Justru manusianya yang kadang berlebihan. Tidak salah menikmati dunia digital, tapi jangan sampai lupa hidup di dunia nyata. Istirahatkan mata, luruskan leher, dan sesekali taruh HP jauh-jauh. Siapa tahu ternyata hidup tanpa notifikasi itu rasanya damai banget.
Kesimpulannya adalah Dampak negatif dari teknologi sangatlah banyak tetapi tergantung kita mengendalikan diri bagaimana positif dan negatif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar